Asma Pada Anak


I.      Konsep medis
A.      Pengertian
Asma adalah proses obstruksi reversibel yang ditandai dengan peningkatan responsivitas dan inflamasi jalan napas, terutama jalan napas bagian bawah. (Keperawatan pediatrik, hal. 475 :  2003)
B.      Etiologi
Belum diketahui tetapi ada beberapa faktor pencetusnya yaitu:
  1. Alergen. Faktor alergi dianggap mempunyai peranan pada sebagian besar anak dengan asma. Sensitisasi bergantung pada lama dan intensitas hubungan dengan bahan alergen.
  2. Infeksi. Biasanya infeksi virus seperti virus respiratory syncytial virus (RSV), bakteri misalnya streptokokus.
  3. Iritan. Seperti obat semprot nyamuk, asap rokok.
  4. Cuaca. Perubahan tekanan udara, dihubungkan dengan percepatan dan terjadinya serangan asma.
  5. Kegiatan jasmani dan faktor psikis dimana tidak adanya perhatian dan/ tidak mau mengakui persoalan yang berhubungan dengan asma oleh anak sendiri/ keluarganya akan menggagalkan usaha pencegahan. (Perawatan anak sakit, hal 85 : 2005)
C.      Menifestasi klinis
Pada anak yang rentan, inflamasi di saluran napas ini dapat menyebabkan timbulnya sesak napas, sianosis, rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempinan jalan napas, yang sebagian besar bersifat reversibel. Gejala dan serangan asma biasanya timbul bila pasien terpajan dengan faktor pencetus yang sangat beragam dan bersifat individual. (Keperawatan pediatri, hal. 26, 2002))
D.      Patofisiologi
Alargen yang masuk ke dalam tubuh merangsang sel plasma menghasilkan IgE yang selanjutnya menempel pada reseptor dinding sel mast. Sel mast ini disebut sel mast tersensitisasi.
Bila alergen serupa masuk ke dalam tubuh, alergen tersebut akan menempel pada sel mast tersensitisasi yang kemudian mengalami degranulasi dan mengeluarkan sejumlah mediator seperti histamine, bradikinin, leukotrien. Mediator ini menyebabkan peningkatan permaebilitas kapiler sehingga timbul edema, peningkatan produksi mukus, dan kontraksi otot bronkus. (Kapita selekta kedokteran, hal 461 :  2000
E.       Pemeriksaan diagnostik
  1. Uji faal paru.
Uji faal paru dikerjakan untuk menentukan derajat serangan asma, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit. Alat yang digunakan untuk uji faal paru adalah peak flow meter, caranya anak disuruh meniup flow meter beberapa kali (sebelumnya menarik napas dalam melalui mulut kemudian menghembuskan dengan kuat) dan catat hasil yang terbaik.
  1. Pemeriksaan darah.  
Hasilnya akan terdapat eosinofil pada darah, secret hidung dan dahak. Selain itu juga dilakukan uji tuberkulin, bukan saja karna di Indonesia masih banyak tuberkulosis tetapi jika ada tuberkulosis dan tidak diobati maka asmanya akan sulit untuk dikontrol. (Perawatan anak sakit, hal 88 : 2005) 
F.       Komplikasi
Status asmatikus adalah keadaan spasme bronkiolus berkepanjangan yang mengancam nyawa. Pada keadaan ini, kerja pernapasan sangat meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Karna individu yang mengalami serangan asma tidak memenuhi kebutuhan oksigen normalnya, maka jelas ia semakin tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk bernapas melawan spasme bronkiolus, dan mucus yang kental. Situasi ini dapat menimbulkan pneumotoraks akibat besarnya tekanan untuk melakukan ventilasi. Apabila individu kelelahan, maka dapat terjadi kegagalan pernapasan hingga kematian. (Keperawatan pediatri, hal. 26, 2002)
G.     Penatalaksanaan
  1. Pencegahan terhadap pemajanan alergen
  2. Pencegahan juga mencakup memantau ventilasi secara berkala, terutama selama waktu-waktu puncak serangan asma.
  3. Intervensi perilaku, yang ditujukan untuk menenangkan pasien. Membantu menghentikan pasien yang menangis memungkinkan udara yang keluar masuk paru melambat dan dapat dihangatkan sehingga rangsangan terhadap jalan napas berkurang.
  4. Antihistamin diberikan untuk mengurangi peradangan
(Patofisiologi, hal 432 : 2000)
II.      Konsep keperawatan
A.      Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan gangguan sistem pernapasan asma dilakukan mulai dari pengumpulan data yang meliputi : biodata, keluhan utama, riwayat kesehatan : riwayat kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga (adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien), riwayat kesehatan pasien dan pengobatan sebelumnya.
Berapa lama klien menderita asma, bagaimana penanganannya, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya,  pemeriksaan fisik, pola kegiatan sehari-hari.
Hal yang perlu dikaji pada klien dengan asma:
  1. Respirasi
a.       Napas pendek
b.      Takipnea
  1. Kardiovaskuler
a.       Takikardia
  1. Neurologis
a.       Gelisah
b.      Cemas
c.       Sulit tidur
  1. Musculoskeletal
a.       Tidak mampu beraktivitas
  1. Integumen
a.       Sianosis
b.      Pucat
(Rencana asuhan keperawatan pediatric, hal. 2, 2007)
B.      Diagnosa keperawatan
  1. Resiko tinggi asfiksia berhubungan dengan interaksi antara individu dengan alergen.
  2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan respon alergenik dan inflamasi pada percabangan bronchial.
  3. Kelelahan yang berhubungan dengan hipoksia.
  4. Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan melalui saluran pernapasan.
  5. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit kronis.
(Keperawatan Pediatrik, hal 475 : 2003)
C.      Rencana keperawatan
1.       Resiko tinggi asfiksia berhubungan dengan interaksi antara individu dengan alergen.
        Tujuan:
a.       Keluarga melakukan setiap upaya untuk menghilangkan atau menghindari kemungkinan alergen atau kejadian pencetus.
b.      Anak/keluarga dapat mendeteksi tanda-tanda ancaman secara dini dan mengimplementasikan tindakan yang tepat.
        Intervensi:
a.       Ajari anak dan keluarga bagaimana menghindari kondisi atau situasi yang mencetuskan episode asmatik.
R/ untuk meminimalkan anak dalam kondisi asma.
b.      Bantu orangtua dalam menghilangkan elargen atau stimulus lain.
R/ untuk menghindari episode asma yang berkelanjutan.
c.       Bila terpapar udara dingin, anjurkan untuk bernapas melalui hidung dan menggunakan masker atau menangkupkan tangan pada hidung.
R/ untuk menciptakan reservoir udara hangat untuk bernapas.
d.      Ajari anak dan keluarga untuk mengenali tanda dan gejala awal asma.
R/ mengenali tanda dan gejala sehingga suatu ancaman episode dapat dikontrol sebelum menimbulkan distres.
2.       Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan respon alergenik dan inflamasi pada percabangan bronchial.
Tujuan:
c.       Anak bernapas dengan mudah dan tanpa dispnea.
d.      Anak menunjukkan kapasitas ventilasi yang membaik.
Intervensi:
a.       Instruksikan dan/ awasi latihan pernapasan.
R/ untuk meningkatkan pernapasan diafragmatik yang tepat, ekspansi sisi, dan perbaikan mobilitas dinding dada.
b.      Bantu pasien dengan/ instruksikan untuk nafas dalam efektif dan batuk dengan posisi duduk tinggi.
R/ Posisi duduk memungkinkan ekspansi paru maksimal.
c.       Observasi jumlah dan karakter sputum/ aspirasi sekret.
R/ Peningkatan jumlah sekret tak berwarna / berair awalnya normal dan harus menurun sesuai kemajuan penyembuhan.
3.       Kelelahan yang berhubungan dengan hipoksia.
Tujuan: anak akan menunjukkan pengurangan kegelisahan yang ditandai oleh periode tidur tidak terganggu, peningkatan kemampuan melakukan aktivitas.
Intervensi:
a.       Kaji tanda-tanda hipoksia termasuk gelisah, peningkatan frekuensi pernapasan.
R/ deteksi dini dan pengobatan yang tepat terhadap hipoksia, akan mencegah kegelisahan dan kelelahan yang berlebihan. 
b.      Posisikan anak terlentang dengan kepala tempat tidur ditinggikan 45 derajat.
R/ untuk memaksimalkan ekspansi paru
c.       Beri istirahat yang adekuat dan waktu yang tenang.
R/ dapat mengurangi tingkat aktivitas anak yang akan mengurangi usaha bernapas dan kelelahan
4.       Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan melalui saluran pernapasan.
Tujuan: Anak akan mempertahankan hidrasi yang adekuat yang ditandai dengan turgor kulit yang baik
Intervensi:
a.       Kaji turgor kulit anak.
R/ pengkajian terhadap hal tersebut membantu untuk menentukan tingkat hidrasi dan kebutuhan penambahan cairan.
b.      Berikan cairan bila distres pernapasan akut sudah berkurang.
R/ untuk mengurangi resiko aspirasi.
c.       Hindari pemberian cairan dingin.
R/ cairan dingin dapat mencetuskan refleks brongkospasme.
5.       Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit kronis.
Tujuan: keluarga menghadapi gejala dan efek penyakit dan memberikan lingkungan yang normal untuk anak.
Intervensi:
a.       Gunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan pemahaman orang tua dan anak tentang penyakit dan terapinya.
R/ pengetahuan yang adekuat dihubungkan dengan penggunaan pencegahan dan intervensi kedaruratan tepat waktu dari keluarga.
b.      Tunjukkan adanya bukti-bukti perbaikan.
R/ untuk mendorong perilaku koping yang positif.
D.      Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah dibuat sebelumnya berdasarkan masalah keperawatan yang ditemukan dalam kasus, dengan menuliskan waktu pelaksanaan dan respon klien.
E.       Evaluasi
1.       Keluarga mampu melakukan setiap upaya untuk menghilangkan atau menghindari kemungkinan alergen atau kejadian pencetus.
2.       Anak/keluarga dapat mendeteksi tanda-tanda ancaman secara dini dan mengimplementasikan tindakan yang tepat.
3.       Anak bernapas dengan mudah dan tanpa dispnea.
4.       Anak menunjukkan kapasitas ventilasi yang membaik.
5.       Anak akan menunjukkan pengurangan kegelisahan yang ditandai oleh penurunan agitasi, periode tidur tidak terganggu, peningkatan kemampuan melakukan aktivitas.
6.       Anak akan mempertahankan hidrasi yang adekuat yang ditandai dengan turgor kulit yang baik dan haluaran urine 1-2 ml/kg/jam.
7.       Keluarga menghadapi gejala dan efek penyakit dan memberikan lingkungan yang normal untuk anak.



DAFTAR PUSTAKA


Wong, Donna L. Keperawatan pediatrik, 2003, Jakarta : EGC

Speer, Kathleen morgan, Rencana Asuhan Keperawatan Pediatric, 2007, Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif, dkk, Kapita Selekta Edisi 3 Jilid 2, 2001, Jakarta : Media Aesculapius

Ngastiyah. Perawatan Pada Anak Sakit, 2005, Jakarta : EGC

Betz, Cecily L. Sowden, Linda A, Keperawatan Pediatri, 2002, Jakarta : EGC

0 komentar:

Posting Komentar

 
Powered by Blogger